• Home
  • Blog

share

Pentingnya Probiotik dan Prebiotik untuk Kesehatan

24 Sep 2020

Pentingnya Probiotik dan Prebiotik untuk Kesehatan


Sudah tahu, belum kalau microbiome bukan hanya berperan sebagai “penghuni” tubuh, tapi juga memengaruhi kesehatan kita? Karena itu, kita perlu menjaga keseimbangannya dan memastikan jenis mikrobiotanya tepat. Caranya? Dengan mengonsumsi probiotik!

Probiotik adalah makanan yang secara alami mengandung mikrobiota atau suplemen yang mengandung bakteri aktif dan hidup. Biasanya suplemen ini disebut-sebut baik untuk kesehatan pencernaan.

Meski terdengar mirip, probiotik berbeda dengan prebiotik. Prebiotik adalah serat pangan sebagai bahan makanan mikrobiota dalam tubuh kita. Jadi, kalau probiotik adalah makanan yang mengandung bakteri, prebiotik adalah makanan yang mengandung zat untuk dimakan oleh bakteri tersebut. Keduanya berpengaruh terhadap jumlah dan jenis mikrobiota di usus.

Lalu, makanan apa saja, ya, yang mengandung probiotik dan prebiotik?

 

Makanan Probiotik dan Prebiotik

Makanan probiotik dan prebiotik


Selain gen, lingkungan, dan penggunaan obat-obatan, makanan juga berperan besar menentukan jenis mikrobiota yang hidup di tubuh kita. Karena itu, setiap orang memiliki microbiome yang unik.

Contoh makanan probiotik adalah makanan fermentasi seperti yoghurt dengan kultur aktif dan hidup, 
kefir, acar, tempe, kombucha, kimchi, miso, serta sauerkraut. Sementara itu, prebiotik bisa didapat dari suplemen serta makanan alami yang mengandung karbohidrat dan serat yang tidak bisa dicerna.

Prebiotik paling banyak ditemukan dalam versi mentah bawang putih, bombai, daun bawang, asparagus, pisang, dan rumput laut. Bagaimanapun, umumnya buah, sayuran, buncis-buncisan, dan padi-padian utuh seperti gandum dan 
oat merupakan sumber serat prebiotik yang baik.

Sebaiknya jangan mengonsumsi makanan prebiotik dalam jumlah banyak dan mendadak, ya, karena bisa meningkatkan produksi gas dan menyebabkan kembung.

Orang yang mengalami sensitivitas gastrointestinal seperti sindrom iritasi usus sebaiknya makan makanan prebiotik sedikit dulu untuk mengukur toleransinya. Semakin sering mengonsumsi makanan prebiotik, toleransi akan semakin meningkat dengan efek samping yang lebih sedikit.

Kalau kamu tidak punya masalah sensitivitas terhadap makanan, kamu perlu menerapkan diet tinggi serat secara bertahap. Sebab, makanan rendah serat bisa mengurangi jumlah mikrobiota baik serta meningkatkan pertumbuhan bakteri patogen.

 

Fungsi Probiotik untuk Kesehatan


Fungsi probiotik untuk kesehatan


Semakin banyak bukti yang menguatkan bahwa perubahan microbiome seseorang berhubungan dengan kondisi penyakit tertentu. Jika demikian, secara teori, ada kemungkinan manipulasi microbiome bisa mengatasi beberapa penyakit.

Berikut fungsi probiotik yang telah dirangkum oleh 
Prof. dr. Subijanto Marto Sudarmo, Sp.A (K)  dari berbagai penelitian:
 

  • Mengubah komunitas mikrobiota dalam usus dan menghambat pertumbuhan patogen
  • Meningkatkan fungsi barrier usus (menyerap zat gizi sekaligus menghalangi masuknya racun) dan memperbaikinya jika rusak
  • Menormalisasi kadar kortikosteron yang tinggi pada ibu hamil dan menyusui
  • Memulihkan hormon pelepas kortikotropin (berfungsi mengontrol respons tubuh terhadap stres) pada bayi baru lahir yang sudah dipisahkan dari ibunya
  • Pemberian probiotik pada anak-anak dengan gangguan saluran cerna memberikan hasil yang baik (menunjukkan perubahan signifikan pada lama dan frekuensi diare serta penurunan berat badan)
  • Dikenal sebagai imunomodulator (senyawa yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh)
  • Mengembalikan bakteri normal di usus setelah menggunakan antibiotik
  • Mencegah kerusakan epitel pada penyakit radang usus

Karena berbagai manfaat tersebut, probiotik semakin sering digunakan untuk berbagai penyakit pencernaan, di antaranya:
 
  • Sindrom iritasi usus besar
  • Penyakit radang usus
  • Enterokolitis nekrotikans
  • Infeksi diare akut
  • Diare terkait antibiotik
 

Hal yang Perlu Diperhatikan

hal yang perlu diperhatikan tentang probiotik

 

Menurut Dr. Allan Walker, profesor gizi di Harvard Chan School of Public Health and Harvard Medical School, probiotik paling efektif untuk bayi dan lansia karena mikroba dalam tubuh tidak sekuat biasanya.

Meski demikian, penggunaan pada bayi baru lahir dengan berat badan lahir sangat rendah, bayi baru lahir yang dirawat di unit perawatan intensif, dan orang-orang dengan kelainan sistem imunitas berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi dan morbiditas lain.

Dr. Walker juga berpendapat bahwa probiotik tidak terlalu efektif untuk membantu orang dewasa atau anak-anak besar yang tidak sedang menggunakan antibiotik. Walau manfaatnya belum terbukti, probiotik umumnya aman digunakan oleh orang dewasa yang sehat.

Probiotik seharusnya tetap hidup saat masuk ke tubuh. Namun, menurut 
H. Cody Meissner, MD, FAAP, organisme ini bisa jadi tidak bertahan saat melewati usus.

Ada yang beranggapan manfaatnya tetap bisa dirasakan dari mikroba yang sudah mati. Namun, sampai saat ini, sulit menentukan hubungan sebab-akibat antara perubahan 
microbiome dengan kondisi penyakit. Mekanisme probiotik dalam meningkatkan fungsi barrier usus juga belum sepenuhnya dipahami.

Jadi, kalau kamu tidak mengalami masalah dengan sistem imunitas dan sistem pencernaan, mengonsumsi makanan prebiotik dan probiotik bisa membawa manfaat untuk tubuhmu. 


Ini saatnya merutinkan konsumsi yoghurt, tempe, serta sayur dan buah!

Nah, berbicara tentang microbiome, buat kamu yang penasaran seperti apa profil microbiome di kulitmu, yuk coba Biome Scan dari Nusantics. Dengan Biome Scan, kulit kamu akan dianalisa dengan swab test berbasis genomics technology, sehingga kamu bisa memahami kondisi kesehatan kulitmu dan memilih skincare yang tepat. Yuk, daftarkan diri kamu di sini!

Referensi:

 

 

Writer: Fitria Rahmadianti

Editor: Serenata Kedang