• Home
  • Blog

share

Awas, Pilihan Skincare Kamu Berpotensi Merusak Lingkungan!

17 Sep 2020

Awas, Pilihan Skincare Kamu Berpotensi Merusak Lingkungan!

Belakangan ini semakin banyak yang sadar akan pentingnya merawat kulit dengan skincare yang tepat dan tidak asal pilih. Dengan semakin majunya perkembangan teknologi dan banyaknya informasi yang tersedia di internet, semakin mudah pula kita mendapatkan informasi tentang dunia skincare dan kecantikan. Namun, pernahkah kamu berpikir asal muasal dan dampak komposisi skincare yang digunakan sehari-hari pada lingkungan? 
 

Apakah Benar Kita Butuh Skincare?

pilihan skincare berpotensi rusak lingkungan 1

Dalam jurnal Structure and function of the human skin microbiome, dijelaskan bahwa kulit adalah organ tubuh manusia yang paling besar, dihuni oleh beragam koloni mikroorganisme yang sebagian besarnya tidak berbahaya, malah mungkin bermanfaat bagi tuan rumahnya. 

Kolonisasi ini dipicu oleh ekologi permukaan kulit yang sangat bervariasi tergantung pada daerah topografi, faktor internal dari tubuh tuan rumah (manusia), serta faktor eksternal dari lingkungan. Secara alami, kulit dan imun yang adaptif merespon dengan mengatur mikrobiota kulit, namun mikrobiota juga berfungsi mengedukasi sistem imun.

Sebagai contoh, penelitian membuktikan masyarakat di Papua Nugini dan Paraguay yang gaya hidupnya tidak terpengaruh budaya Barat, tidak ditemukan jerawat satupun. Ada spekulasi dari peneliti bahwa menu makanan barat yang tinggi indeks glikemik meningkatkan hormon androgen, meningkatkan faktor pertumbuhan mirip insulin, dan perubahan sinyal retinoid. 

Pada konteks ini, faktor tersebut dapat memengaruhi 
microbiome pada kulit. Walaupun secara keseluruhan masih diteliti, perubahan koloni bakteri pada wajah dianggap sebagai elemen utama yang berkontribusi perkembangan jerawat.

Contoh produk yang memicu ketidakseimbangan mikrobiota pada kulit wajah kita adalah sabun cuci muka. Kebanyakan produk sabun memiliki tingkat alkali pH 10-11 yang dapat membersihkan kotoran di permukaan wajah, namun sekaligus dapat merusak protein, enzim, dan pertahanan alami 
microbiome pada kulit. 

Ketidakseimbangan pada komposisi mikrobiota kulit atau disbiosis, dihubungkan dengan beberapa masalah kulit patologis, misalnya eksim, jerawat, alergi, atau ketombe, serta masalah kulit nonpatologis lainnya antara lain kulit sensitif, iritasi, atau kulit kering. 

Maka, sebaiknya gunakan produk kebersihan atau kecantikan natural yang merawat atau mengembalikan mikrobiota yang alami dan seimbang diperlukan agar kulit kembali sehat dan dapat melawan bakteri, jamur, dan mikroorganisme jahat lainnya secara lebih alami.

 

Bahan-Bahan Skincare yang Patut Dipertanyakan

pilihan skincare berpotensi rusak lingkungan 2

Beberapa bahan pada skincare yang sehari-hari kita gunakan ternyata dapat berbahaya. Beberapa di antaranya yaitu:

  1. Triclosan, yaitu bahan antibakteri yang sering ditemukan di pasta gigi, sampo, sabun, sabun cuci muka, dan hand sanitizer. Kecuali pada pasta gigi, Triclosan pada berbagai sabun dan deterjen belum terbukti bermanfaat dan aman untuk digunakan pada jangka panjang. Penelitian pada hewan menunjukkan Triclosan dapat mengubah regulasi hormon, berpotensi berbahaya untuk sistem imun, dan dapat berkontribusi pada perkembangan bakteri yang resisten terhadap antibiotik.
  2. Paraben dan keluarganyayaitu bahan pengawet yang sangat umum digunakan dan mudah ditemukan dalam hampir setiap label kemasan produk skincare. Pengawet ini kontroversial penggunaannya karena beberapa penelitian menemukan paraben dalam sel kanker payudara dan tumor dalam tubuh. Saat ini belum terbukti apakah paraben benar-benar memicu kanker dan gangguan hormon tertentu, namun produk paraben-free yang lebih aman saat ini telah banyak beredar.
  3. Parfum sintetismenambah aroma yang menyenangkan untuk hidung kita saat tercium, namun secara umum dapat membuat kulit iritasi.

 

Dampak Buruk Bahan-Bahan Berbahaya Bagi Lingkungan
 

dampak buruk bahan-bahan berbahaya bagi lingkungan

Selain berbahaya dan memengaruhi mikrobiota pada tubuh kita sendiri, inilah beberapa alasan mengapa pemilihan skincare kita berdampak pada lingkungan:
 

  1. Oxybenzone dan octinoxate terbukti dapat merusak terumbu karang. Kedua bahan ini biasanya mencemari air secara langsung saat kita berenang atau mengalir ke laut saat kita mandi. Oxybenzone merusak DNA terumbu karang dan mengganggu sistem reproduksi dan pertumbuhan karang muda.
  2. Triclosan terbukti beracun untuk bakteri alami perairan, berdampak negatif pada ganggang, bahkan ditemukan pada lumba-lumba.
  3. Paraben dan sisanya telah ditemukan dalam tubuh hewan perairan seperti lumba-lumba dan berang-berang. Walau dampak negatifnya belum diketahui, namun paraben dapat bereaksi seperti hormon estrogen pada hewan.
  4. Plastic Microbeads, butiran-butiran kecil yang sering ditemukan pada produk eksfoliator telah dilarang di Inggris dan Amerika saat ini, namun di luar kedua negara ini butiran plastik masih digunakan dalam face & body scrub dan pasta gigi. Karena terbuat dari plastik yang tidak terurai di air, butiran-butiran ini masuk ke perairan bebas dan termakan oleh hewan seperti ikan.
  5. Parfum sintetis ditemukan telah menumpuk dalam lingkungan perairan akibat tidak dapat terurai oleh pengolahan limbah. Parfum buatan ini dapat terakumulasi dalam tubuh ikan dan satwa lainnya.

Walaupun belum semuanya dibahas, beberapa bahan ini hampir selalu ada dalam produk-produk di sekitar kamu. Jika kamu ingin mengurangi dampak negatif untuk lingkungan, bisa kamu mulai dengan mengganti produk skincare kamu dengan yang mengandung bahan-bahan natural, paraben-free, atau bahkan cukup dengan menggunakan bahan-bahan alami saja seperti lemon, alpukat, timun, atau bahan lainnya.

Jadi, memilih skincare dengan bahan-bahan alami seperti Nusantics bisa jadi langkah kecil yang kamu lakukan untuk ikut berpartisipasi menyelamatkan bumi!


Referensi:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/
https://www.elle.com/
https://practicaldermatology.com/
https://practicaldermatology.com/
https://blackpaint.sg/
https://www.mayoclinic.org/
https://www.vogue.co.uk/
https://www.health.harvard.edu/
https://www.gloworganicbrighton.co.uk/
https://www.acs.org/

Writer: Agnes Octaviani

Editor: Serenata Kedang