• Home
  • Blog

share

Waspada, Ini 5 Masalah Kulit Akibat Microbiome Tidak Seimbang!

30 Oct 2020

Waspada, Ini 5 Masalah Kulit Akibat Microbiome Tidak Seimbang!

Apa masalah kulit yang kamu alami saat ini? Bisa jadi komedo, kulit kering, berminyak, jerawat, hingga penyakit kulit lainnya. Kamu pasti juga sudah melakukan berbagai pengobatan atau usaha untuk menyembuhkan masalah kulit ini, kan? Tapi, mungkin tidak ada yang memberi hasil memuaskan.  

Hal yang jadi soal ialah, apakah ternyata masalah kulit itu hanya terjadi karena faktor luar? Bagaimana jika ternyata faktor dalam tubuh yang seharusnya kamu perhatikan dan perbaiki, misalnya seperti menjaga keseimbangan 
microbiome? Yuk, simak ulasan selengkapnya di bawah ini!
 

Apa Itu Microbiome dan Mengapa Harus Seimbang?


Microbiome adalah mikroorganisme yang hidup dalam tubuh manusia dan bertugas membantu semua proses dalam tubuh. Microbiome terdiri dari bakteri, jamur, virus, archae, dan lain-lain. Keberadaan dan jumlahnya yang seimbang akan memberikan banyak manfaat baik bagi tubuhmu, lho. 

Misalnya seperti melancarkan segala proses dalam tubuh (contoh: proses penyerapan dan pencernaan makanan), tidak mudah terserang penyakit, serta menyehatkan kulit sehingga kulit kamu bisa terlihat sehat dan glowing.
 

Masalah Kulit Akibat Microbiome Tidak Seimbang


Faktanya, jika microbiome dalam tubuhmu tidak seimbang, akan ada beberapa dampak negatif yang dirasakan dalam tubuh, termasuk kulit. Lalu, masalah kulit apa saja yang timbul akibat microbiome tidak seimbang? 
 

1. Jerawat

jerawat


Jerawat atau acne adalah masalah kulit yang paling banyak diderita wanita maupun pria. Jerawat terjadi karena tempat tumbuhnya rambut (folikel) tersumbat oleh minyak (sebum) dan sel kulit mati. 

Jerawat biasanya timbul di wajah, punggung, leher, bahu, dan dada. Jerawat sering disebut sebagai masalah kulit yang diakibatkan karena pola hidup kotor sehingga memberikan tempat bagi tumbuhnya bakteri tidak baik dan jamur. 

Sebenarnya, normalnya keberadaan bakteri pada kulit akan menyeimbangkan 
microbiome dan mencegah infeksi jamur. Tetapi, saat kadar jamur berlebih, kulit akan terkena masalah yang dikenal sebagai fungal acne. 

Sebaliknya, apabila bakteri yang mendominasi microbiome kulit wajah, jangan heran apabila kamu jadi rentan dengan jerawat (acne prone). Beberapa jenis jerawat yang bisa kamu alami ialah papula, pustula, nodul, dan cystic.

Namun, jika 
microbiome kamu seimbang, tubuh akan mampu melawan patogen (mikroorganisme pengganggu tubuh). Menjaga keseimbangan microbiome harus dimulai dengan pola hidup bersih, salah satunya dengan rajin mencuci muka secara rutin.
 

2. Kulit Kering


Microbiome yang tidak seimbang juga bisa membuat kulit kering, lho. Terlebih jika kamu melakukan kebiasaan yang tidak disadari membuat kulit semakin kering, misalnya seperti terlalu sering mandi dengan air hangat, sering scrubbing, melakukan diet ketat, pola makan tidak teratur, hingga menggunakan produk penghilang minyak. 

Kebiasaan kurang baik ini akan mengganggu keseimbangan 
microbiome-mu. Bakteri baik yang ada dalam tubuh akhirnya harus hilang atau mati sehingga microbiome tidak bisa menjaga kelembapan kulit. 
 

3. Ketombe

ketombe


Ketombe juga merupakan masalah kulit yang muncul akibat microbiome tidak seimbang. Mekanisme datangnya ketombe bisa terjadi karena proses deskuamasi terganggu akibat microbiome yang terganggu. 

Proses deskuamasi adalah pengelupasan lapisan terluar dari suatu jaringan, yakni kulit. Proses ini akan menggantikan lapisan kulit lama dengan lapisan kulit yang baru yang normalnya terjadi 14 s.d. 21 hari. 

Berdasarkan penelitian 
Archives of Dermatological Research, proses deskuamasi dapat terganggu ditandai dengan kulit kepala mengelupas dan bersisik yang khas. Tak hanya proses deskuamasi yang terganggu, ketombe juga bisa hadir karena lapisan pelindung air epidermal pada kulit kepala terganggu. 

Apabila pelindung ini terganggu, penderita ketombe bisa lebih rentan terhadap racun mikroba dan jamur, serta polutan lingkungan. Untuk itulah mengapa 
microbiome harus dikembalikan ke keadaan seimbang dan senantiasa dijaga agar dapat bertugas menjaga proses deskuamasi dan lapisan kulit terluar dari berbagai patogen entah jamur atau bakteri tidak baik. 
 

4. Dermatitis Atopik


Hasil dari penelitian Annals of Allergy, Asthma, and Immunology, menyebutkan dermatitis atopik (AD) adalah penyakit kompleks dan heterogen yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetika inang, perubahan fungsi / struktur pelindung kulit, kelainan imunologi, dan faktor lingkungan. 

Merangkum penelitian 
Allergology Internationaldermatitis atopik telah menyerang 15% hingga 20% anak-anak dan 2% hingga 5% orang dewasa di negara industri. Dermatitis atopik dapat diderita oleh seseorang karena microbiome tidak seimbang. 

Jurnal penelitian dari 
Japanese Dermatological Association juga mengatakan perubahan microbiome kulit atau ketidakseimbangan microbiome tadi dapat menyebabkan peningkatan kolonisasi bakteri Staphylococcus aureus dan perkembangan dermatitis atopik. 
 

5. Psoriasis 

psoriasis


Psoriasis adalah masalah kulit yang yang ditandai dengan kulit kering, tebal, bersisik, terkelupas, dan munculnya ruam merah. Penyebab psoriasis yang paling umum dijumpai adalah stres dan cuaca dingin. 

Sesuai dengan penelitian dari 
EBSCO, psoriasis terjadi di seluruh dunia dan insidennya lebih rendah di negara dengan iklim yang lebih hangat dan lebih cerah. Beruntunglah bagi kita yang tinggal di negara beriklim tropis seperti Indonesia, karena microbiome lebih terjaga keseimbangannya sehingga kamu akan terhindar dari risiko kulit kering seperti keadaan di iklim dingin. 

Itulah beberapa masalah kulit yang kemungkinan kamu alami jika tidak menjaga 
microbiome tetap seimbang. Kurangi kebiasaan buruk yang dapat mengganggu bakteri baik di dalam tubuhmu, jaga asupan makan dan gaya hidup, serta perbanyak minum air putih.

Kamu juga bisa merawat kulitmu dengan menggunakan 
skincare yang ramah microbiome seperti Biome Beauty dari Nusantics. Dibuat hanya menggunakan bahan-bahan alami, Biome Beauty juga ramah lingkungan, vegan friendly, dan no animal testing. Tertarik mencoba? Klik di sini untuk informasi selengkapnya.

Referensi

Writer: Lintang Zahrima Kalsum

Editor: Serenata Kedang